PEWARTAHARIAN Badan Musyawarah Antar Gereja Nasional (BAMAGNAS) bukanlah organisasi baru di kancah keagamaan Indonesia. Di Kota Tomohon, lembaga ini telah menjelma menjadi mitra pemerintah dalam menjaga toleransi dan membangun sinergi lintas iman.
Dengan kepengurusan periode 2025-2029 yang telah dikonsolidasikan, BAMAGNAS memiliki sejumlah program prioritas, termasuk pembangunan BAMAGNAS Kristian Centre di kota yang dikenal sebagai kota religius ini.
Audiensi dengan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Tomohon, Pdt. Olva Mervy Moningka SPAK MTh, menjadi salah satu langkah awal yang diambil setelah kepengurusan terbentuk.
Dalam pertemuan tersebut, BAMAGNAS menyampaikan sejumlah program yang akan dilaksanakan, baik dalam waktu dekat maupun jangka panjang. Kemenag Tomohon pun menyambut baik kehadiran BAMAGNAS dan siap mencatatnya sebagai anggota resmi di lingkungan kemenag.
Tak hanya berfokus pada internal gereja, BAMAGNAS juga aktif menjalin komunikasi dengan organisasi keagamaan lain.
Kunjungan silaturahmi ke Mapolres Tomohon bersama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Tomohon pada Januari 2026 menjadi salah satu bukti nyata. Kapolres Tomohon, menyambut hangat kunjungan ini dan menekankan pentingnya peran tokoh agama dalam menciptakan suasana yang sejuk, rukun, dan harmonis di tengah masyarakat.
“Polres Tomohon sangat terbuka dan siap bersinergi dengan seluruh elemen masyarakat, khususnya tokoh-tokoh agama, dalam menjaga situasi kamtibmas yang aman dan kondusif,” ujar Kapolres.
TIFF 2026 menjadi momentum bagi BAMAGNAS untuk menunjukkan peranannya tidak hanya di bidang keagamaan, tetapi juga dalam pembangunan daerah. Dengan tema “Collaboration of Spirit”, festival ini menjadi simbol dari semangat kebersamaan lintas budaya dan lintas agama.
Ajakan yang disuarakan oleh Bendahara BAMAGNAS, Ny. Ellen Mastandreas Runtuwene, adalah bagian dari upaya mengajak seluruh umat beragama untuk menjadi bagian dari perayaan ini.
Dengan langkah-langkah strategis yang terus diambil, BAMAGNAS membuktikan diri sebagai organisasi yang tidak hanya bicara tentang kerukunan, tetapi juga bergerak nyata untuk mewujudkannya.
Di tangan para pengurus seperti Ellen Mastandreas Runtuwene, visi besar mempersatukan seluruh elemen masyarakat melalui doa, kerja sama, dan aksi nyata terus digaungkan. (TIM)













